Rancangan Kegiatan Statistik
| Judul | Kompilasi Data Penyusunan Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Tahun 2026 |
| Cara Pengumpulan Data | Kompromin |
| Instansi | Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional |
| Tanggal Terbit | 17 Juli 2026 |
| Identitas Rekomendasi | K-26.0000.072 |
Indonesia memiliki modal dasar yang luar biasa untuk melakukan transformasi paradigma pembangunan dari yang berbasis daratan (land-based economy) menuju ekonomi yang mengoptimalkan potensi kelautan (ocean-based economy). Dalam konteks global, konsep Ekonomi Biru telah mengalami evolusi signifikan dari sekadar eksploitasi sumber daya laut menjadi sebuah kerangka pembangunan yang holistik dan berkelanjutan. Paradigma ini, yang pertama kali dipopulerkan dalam Rio+20 Conference on Sustainable Development, menekankan pada pemanfaatan sumber daya laut yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga menjaga integritas ekosistem dan memastikan distribusi manfaat yang berkeadilan.
Penetapan Ekonomi Biru sebagai salah satu pilar utama pada satu dari lima sasaran Visi Indonesia Emas 2045, yaitu pendapatan per kapita setara dengan negara maju, mencerminkan pengakuan pemerintah terhadap peran krusial sektor kelautan sebagaimana tercantum dalam UU No. 59 Tahun 2024 tentang RPJPN Tahun 2025–2045. Peran Ekonomi Biru sebagai agenda prioritas nasional ditegaskan melalui arah kebijakan yang komprehensif dan penempatannya sebagai pilar utama dalam pembangunan wilayah strategis, seperti menjadikan Wilayah Maluku sebagai "Hub Ekonomi Biru Timur Indonesia"
IBEI dirancang dengan pendekatan multidimensional yang menangkap kompleksitas ekonomi biru dalam tiga pilar fundamental: Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial. Pendekatan holistik ini sejalan dengan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Life Below Water), namun dengan kontekstualisasi yang spesifik terhadap karakteristik dan prioritas pembangunan Indonesia.
Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi ekonomi biru yang luar biasa. Namun, untuk memastikan pemanfaatan sumber daya kelautan berjalan secara berkelanjutan dan inklusif, diperlukan sebuah alat ukur yang komprehensif. Indonesia Blue Economy Index (IBEI) dirancang untuk memenuhi kebutuhan ini, berfungsi sebagai barometer holistik untuk mengukur kemajuan ekonomi biru di tingkat provinsi. Indeks ini tidak hanya menilai kinerja ekonomi, tetapi juga mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan secara seimbang. Bagian ini akan menguraikan definisi, kerangka konseptual, dan metodologi perhitungan yang mendasari IBEI, menunjukkan bagaimana indeks ini menjadi instrumen strategis dalam pengelolaan sumber daya laut nasional.
| Kegiatan | Tanggal Mulai | Tanggal Selesai | |
|---|---|---|---|
| A. | Perencanaan/Persiapan |
01 Februari 2026
|
30 April 2026
|
| B. | Pelaksanaan Lapangan |
01 Agustus 2026
|
01 September 2026
|
| C. | Pengolahan |
02 September 2026
|
30 September 2026
|
| D. | Analisis |
01 Oktober 2026
|
30 November 2026
|
| E. | Penyajian |
01 Desember 2026
|
31 Desember 2026
|
|
No.
|
Nama Variabel
|
Definisi
|
Referensi Waktu
|
|---|---|---|---|
| 1 | Peran sektor perikanan dalam PDB | Kontribusi PDRB sektor perikanan provinsi terhadap PDRB provinsi (ADHB) | 2025 |
| 2 | Volume produksi perikanan | Total produksi perikanan yang dihasilkan dalam setahun, yang merupakan penjumlahan dari perikanan tangkap dan budidaya pembesaran (mencakup tambak dan non tambak). Dalam perikanan tangkap termasuk perikanan tangkap laut dan perikanan tangkap perairan umum daratan (PUD) seperti gabus, lele, ikan nila, mujaer, mas, dan lain-lain | 2025 |
| 3 | Volume produksi budidaya tambak | Produksi total yang bersumber dari budidaya tambak melalui kolam buatan yang dimanfaatkan sebagai sarana budidaya. Adapun biota yang dibudidayakan antara lain ikan, udang dan kerang. Secara umum, media air yang digunakan dapat berupa air tawar, air payau, dan air laut | 2025 |
| 4 | Volume produksi akuakultur | Jumlah volume produksi perikanan budidaya pembesaran. Perikanan budidaya mencakup jenis-jenis ikan air tawar, ikan air laut, dan rumput laut | 2025 |
| 5 | Volume produksi budidaya rumput laut | Jumlah total rumput laut yang diproduksi melalui metode budidaya di lingkungan yang terkontrol, seperti tambak, kolam, atau laut terbuka yang dipersiapkan secara khusus untuk budidaya | 2025 |
| 6 | Volume angkutan laut | Volume ekspor dan impor muat dengan moda transportasi laut | 2025 |
| 7 | Jumlah penumpang angkutan laut | Jumlah penumpang angkutan laut di 25 pelabuhan strategis mencakup penumpang di Pelabuhan Lhokseumawe, Belawan, Teluk Bayur, Dumai, Pekanbaru, Palembang, Panjang, Tanjung Pinang, Batam, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Banten, Benoa, Tenau, Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Bitung, Makassar, Ambon, Sorong, Jayapura, dan Biak | 2025 |
| 8 | Volume ekspor perikanan | Jumlah total produk perikanan yang diekspor dari suatu provinsi. Komoditas perikanan mencakup komoditas yang tercantum pada website KKP pada tabel Volume Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditas | 2025 |
| 9 | Kontribusi ekspor produk perikanan terhadap total ekspor | Nilai ekspor produk perikanan terhadap total nilai ekspor di provinsi dimaksud. Komoditas perikanan mencakup komoditas yang tercantum pada website KKP pada tabel Data Nilai Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditas | 2025 |
| 10 | Volume ekspor perikanan hidup dan segar | Total ekspor perikanan tangkap (ISIC 031) dan akuakultur (ISIC 032), untuk ikan hidup dan segar | 2025 |
| 11 | Volume ekspor ikan olahan | Total berat bersih volume ikan, krustasea, dan moluska (ISIC 102) yang sudah diproses dan/atau diawetkan | 2025 |
| 12 | Volume produksi garam | Total produksi garam dari tambak dan non-tambak nasional | 2025 |
| 13 | Jumlah perahu/kapal penangkap ikan | Jumlah perahu yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan yang mencakup perahu tanpa motor, perahu motor tempel, dan kapal motor | 2025 |
| 14 | Jumlah wisata bahari | Jumlah desa tepi laut yang memiliki wisata bahari | 2025 |
| 15 | Jumlah usaha/perusahaan wisata tirta komersial | Jumlah usaha yang bergerak di wisata tirta yang mencakup arung jeram, wisata selam, dermaga marina, selancar, selancar angin, para layar, motor air, dan aktivitas tirta lainnya | 2025 |
| 16 | Jumlah kapal perikanan tangkap laut – kapal motor > 30 GT | Jumlah kapal motor perikanan tangkap laut berukuran lebih dari 30 GT | 2025 |
| 17 | Jumlah pelabuhan perikanan dengan tempat pelelangan ikan | Jumlah pelabuhan perikanan yang memiliki TPI menurut provinsi dan kategori pelabuhan | 2025 |
| 18 | Kawasan terumbu karang berkualitas baik | Persentase kawasan terumbu karang dengan tutupan karang hidup antara 50 - 100% | 2025 |
| 19 | Kawasan lamun berkualitas baik | Persentase kawasan lamun dengan tutupan lamun hidup antara 50 - 100% | 2025 |
| 20 | Kawasan hutan mangrove berkualitas baik | Persentase mangrove dengan kerapatan tutupan antara 50%-100% | 2025 |
| 21 | Jumlah desa pesisir dengan tempat pembuangan sampah | Jumlah desa tepi laut dengan tempat penampungan sampah sementara (TPS) | 2025 |
| 22 | Jumlah desa pesisir dengan tempat buang air besar | Jumlah desa tepi laut dengan tempat buang air besar yang sebagian besar masyarakatnya memiliki jamban sendiri | 2025 |
| 23 | Penanaman/rehabilitasi hutan mangrove, rawa, dan lahan gambut | Total luas kawasan mangrove, rawa, dan lahan gambut yang rusak kemudian ditanami kembali (direstorasi) | 2025 |
| 24 | Jumlah Kebocoran Sampah Laut | Volume sampah, termasuk plastik dan limbah rumah tangga, yang terbuang ke laut dan dihitung jumlahnya per meter persegi di area laut | 2025 |
| 25 | Jumlah sampah yang dibuang di darat | Timbunan sampah dalam setahun | 2025 |
| 26 | Luas kawasan konservasi perairan | Jumlah kawasan yang mempunyai ciri khas tertentu sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kawasan konservasi perairan dibagi menjadi kawasan konservasi nasional (KKN), kawasan konservasi daerah (KKD), dan kawasan konservasi yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) | 2025 |
| 27 | Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) | Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) | 2025 |
| 28 | Listrik yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) | Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) | 2025 |
| 29 | Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) | Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) | 2025 |
| 30 | Listrik yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) | Tenaga Listrik yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) | 2025 |
| 31 | Persentase penduduk bekerja di sektor perikanan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) | Persentase dari total penduduk yang bekerja di sektor perikanan dan menerima Program Keluarga Harapan | 2025 |
| 32 | Jumlah pekerja perempuan di sektor perikanan | Jumlah penduduk perempuan yang ikut terlibat dalam sektor perikanan yang terdiri dari total nelayan perempuan dan pembudidaya ikan perempuan | 2025 |
| 33 | Jumlah nelayan dan pembudidaya ikan | Jumlah penduduk yang berprofesi sebagai nelayan dan pembudidaya ikan | 2025 |
| 34 | Rata-rata konsumsi kalori ikan per kapita | Rata-rata konsumsi kalori dari ikan oleh setiap individu per hari | 2025 |
| 35 | Rata-rata konsumsi protein dari ikan per kapita | Rata-rata konsumsi protein dari ikan oleh setiap individu per hari | 2025 |
| 36 | Persentase penduduk bekerja di sektor perikanan yang memiliki jaminan kesehatan | Persentase penduduk yang bekerja di sektor perikanan yang memiliki akses atau kepemilikan jaminan kesehatan, seperti BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya | 2025 |
| 37 | Persentase penduduk pesisir yang hidup di bawah garis kemiskinan | Persentase penduduk yang tinggal di kabupaten atau kota pesisir yang berada di bawah garis kemiskinan terhadap penduduk miskin | 2025 |
| 38 | Jumlah SMK kemaritiman | Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kemaritiman (Perikanan dan Kelautan) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) | 2025 |
| 39 | Jumlah lulusan sekolah perikanan | Jumlah lulusan satuan pendidikan Kelautan dan Perikanan (Kemaritiman) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan | 2025 |
| 40 | Jumlah peserta pelatihan perikanan | Total jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dan penyuluhan kelautan dan perikanan yang mencakup kompetensi Perikanan Tangkap, kompetensi Pembudidayaan Ikan, kompetensi Pengolahan Hasil Perikanan, kompetensi Permesinan Perikanan, Kompetensi Pengelolaan Sumberdaya KP, Kompetensi Pengelolaan Usaha KP, Kompetensi Garam, dan Kompetensi Penyuluh Perikanan | 2025 |
| 41 | Persentase penduduk sektor perikanan dengan pendidikan terakhir SMA atau sederajat | Persentase penduduk di sektor perikanan yang memiliki tingkat pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat | 2025 |
| 42 | Persentase penduduk di sektor perikanan dengan ijazah minimal SMA atau sederajat | Persentase penduduk di sektor perikanan yang memiliki ijazah minimal Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sederajat | 2025 |
| 43 | Persentase penduduk bekerja di sektor perikanan penerima Program Indonesia Pintar (PIP) | Persentase dari total penduduk di sektor perikanan yang menerima Program Indonesia Pintar | 2025 |
| 44 | Jumlah penumpang angkutan laut di 25 pelabuhan strategis | Jumlah penmpang (datang dan berangkat) di setiap pelabuhan yang termasuk dalam daftar 25 pelabuhan strategis nasional | 2025 |
- Pengumpulan Data Sekunder
- Lainnya : Publikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Website dan Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS)
- Supervisi
- Lainnya : Provinsi
- Nasional
- Provinsi