Rancangan Kegiatan Statistik
| Judul | Kompilasi Data Penyakit Menular Dan Tidak Menular Tahun 2026 Tahun 2026 |
| Cara Pengumpulan Data | Kompromin |
| Instansi | Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Bangka Tengah |
| Tanggal Terbit | 13 April 2026 |
| Identitas Rekomendasi | K-26.1904.007 |
Penyakit menular adalah penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit jenis ini masih menjadi masalah besar kesehatan karena meningkatkan angka kesakitan dan kematian dalam waktu yang relatif singkat. Penyakit ini menyerang semua lapisan masyarakat dan berdampak buruk pada kondisi sosial ekonomi mengingat sifat menularnya yang bisa menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian besar. Meskipun beban penyakit global mulai berganti dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, namun dampak dari penyakit menular ini tidak bisa diabaikan. (1,3) Tahun 2012, WHO mengestimasi 56 juta kematian di dunia, sebesar 13 juta kematian diakibatkan oleh penyakit menular dan dominan terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah. Salah satu penyakit menular yang mengakibatkan sepertiga kematian di negara-negara berpendapatan rendah ini adalah penyakit Tuberkulosis (TB). (2,3) Tuberkulosis merupakan jenis dari penyakit menular pembunuh nomor satu di dunia dan bertanggung jawab untuk 2 juta kematian setiap tahunnya di dunia. Tuberkulosis disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang ditularkan oleh penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin melalui udara. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, 85% dari seluruh kasus TB adalah TB paru, sisanya (15%) menyerang organ tubuh lain mulai dari kulit, tulang, organ-organ dalam seperti ginjal, usus, otak, dan lainnya. Tahun 2014, secara global diperkirakan bahwa tercatat kurang lebih dua pertiga (63%) kasus TB. Insiden TB mencapai 9,6 juta kasus: 5,4 juta di antara pria, 3,2 juta di antara perempuandan1,0 juta anak-anak. 1,5 juta kematian diakibatkan oleh TB, dimana sekitar 890 000 adalah laki-laki, 480 000 adalah perempuan dan 140 000 anak-anak.
Asia Tenggara termasuk dalam region dengan angka kejadian TB yang tinggi. Sebesar58% dari 9,6 juta kasus baru TB pada tahun 2014 terjadi di daerah Asia Tenggara. 1 juta dari 1,5 juta kematian akibat TB diantaranya terjadi di Asia Tenggara. Enam negara wilayah AsiaTenggara (Indonesia, Myanmar, Vietnam, Philippine, Cambodia, dan Thailand) juga tercatat menjadi bagian dari 22 negara dengan beban TB tertinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kematian akibat TB masih tinggi di Asia Tenggara. (5,6) Tuberkulosis disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor prediktor terkuat untuk penyakit TB adalah infeksi HIV. Sekitar 10% orang yang tidak terinfeksi HIV bila terinfeksi kuman TB akan menjadi sakit TB sepanjang hidupnya; sedangkan pada orang yang terinfeksi HIV sekitar 60% jika terinfeksi kuman TB akan menjadi penderita TB aktif. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lawn SD, Kerkhoff AD, Burton R, Schutz C, van WykG, Vogt M, et al, dengan judul Rapid microbiological screening for tuberculosis in HIV-positivepatients on the first day of acute hospital admission by systematic testing of urine samplesusing Xpert MTB/RIF: a prospective cohort in South Africa menunjukkan bahwa penurunankadar CD4 yang merupakan tanda infeksi HIV merupakan prediktor kuat untuk terjangkitnya penyakit TB. Penelitian lain yang dilakukan oleh Monge S, Diez M, Pulido F, IribarrenJA, Campins AA, Arazo P, et al, dalam penelitiannya menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit tuberkulosis masih tinggi diantara pasien dengan status HIV dimana 41,3% diantaranya adalah tuberkulosis paru.
Disisi lain, penelitian epidemiologi membuktikan bahwa tidak semua kasus TB berkaitan dengan infeksi HIV. Contohnya, di Tanzania kasus TB dikaitkan dengan infeksi HIV hanya sebesar 29,7% sementara di Nigeria dilaporkan sebesar 40%. Penemuan ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi epidemi TB. Ada dua faktor yang meningkat dan dikenal sebagai pendorong utama dari epidemi TB yaitu merokok dan diabetes mellitus.
Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, dan perkembangannya memerlukan jangka waktu yang panjang atau biasa disebut dengan kronis. Kejadian penyakit saat ini sudah mengalami perubahan epidemiologi yang ditandai dengan adanya perbedaan kejadian penyakit dan kematian yang didominasi dengan penyakit menular berubah ke penyakit tidak menular (World Health Organization, 2014). Penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan yang menimbulkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi, serta menimbulkan beban pembiayaan kesehatan yang besar (Kementerian Kesehatan, 2015). Permasalahan penyakit tidak menular cenderung meningkat setiap tahun baik secara regional maupun global. Pada tahun 2018, sekitar 75% penyebab kematian di dunia adalah penyakit tidak menular dengan 80% terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. Sebagian besar terjadi karena penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 35%, penyakit kanker 12%, penyakit pernapasan kronis 6%, diabetes 6%, dan 15% disebabkan oleh penyakit tidak menular lainnya (World Health Organization, 2018). Angka penyakit tidak menular menyumbang 60% angka kematian di semua golongan umur yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, kanker, dan penyakit paru obstruksi kronis (Kementerian Kesehatan, 2019)
Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular menyebabkan Indonesia menghadapi beban ganda yaitu penyakit menular dan tidak menular. Perubahan pola penyakit dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, perilaku masyarakat, transisi demografi, teknologi, ekonomi, dan sosial budaya. Peningkatan beban akibat penyakit tidak menular sejalan dengan meningkatnya faktor risiko seperti prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun keatas meningkat dari 31,7% pada tahun 2013 menjadi 34,1% prevalensi obesitas (21,8%) dan prevalensi merokok (29,3%). Selain itu, prevalensi pada penduduk usia 15 tahun keatas pada kejadian stroke sebesar 1,1% prevalensi diabetes (10,9%), prevalensi konsumsi buah dan sayur kurang (95,5%), dan prevalensi aktivitas kurang sebesar 35,5% (Badan Pusat Statistika, 2020). Peningkatan faktor risiko tersebut dapat mendukung proyeksi perkiraan penyebab kematian oleh WHO pada 2008 hingga 2030 dimana sebagian besar adalah kanker, jantung iskemik, dan pembuluh darah otak. Faktor risiko kejadian penyakit tidak menular 80% disebabkan lifestyle seperti kurang konsumsi buah dan sayur, merokok, kurang aktivitas fisik, dan obesitas (World Health Organization, 2018). Kebiasaan merokok merupakan penyebab utama kematian secara global. World Health Organization (2015) dalam hasil Global Youth Tobacco Survey mengatakankan bahwa 6 juta kematian pertahun disebabkan oleh konsumsi tembakau, angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 8 juta kematian di tahun 2030. Diperkirakan saat ini jumlah perokok di seluruh dunia mencapai 1,3 milyar orang dan Indonesia berada pada urutan ketiga konsumsi rokok terbesar setelah China dan India. Perilaku merokok di Indonesia mencapai 29, 3% sedangkan di Jawa Tengah sebesar 28,3% dengan persentase perokok remaja usia 10 – 24 tahun sebesar 8,5%. Secara keseluruhan perokok remaja usia 13 – 15 tahun mulai merokok di usia 12 – 13 tahun (43,2%) dan sebanyak 11,4% mulai merokok pada usia 4 14 – 15 tahun. Keinginan untuk mencoba rokok dilakukan pada usia ≤ 7 tahun sebanyak 8,9%. Selain perokok aktif, bahaya merokok juga terdapat pada perokok pasif, di Indonesia terdapat sekitar 97 juta orang terpapar asap rokok di dalam rumah dengan paparan terbanyak pada usia 0 – 14 tahun (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2015).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan visi dan misi Presiden dan Implementasi Nawa Cita yang kelima yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya diselenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.
Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, mengamanatkan Dana Alokasi Khusus (DAK)
sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, diantaranya untuk meningkatkan pembangunan kesehatan, sehingga Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau dan berkualitas. Pasal 108 ayat (1) Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 menyebutkan Dana Dekosentrasi dan Dana Tugas Perbantuan dialihkan menjadi Dana Alokasi Khusus (DAK).
Petunjuk Teknis merupakan pedoman penggunaan DAK bidang kesehatan tahun 2024, yang berisi penjelasan rinci kegiatan pemanfaatan DAK yang meliputi DAK Fisik dan DAK Non Fisik yang selanjutnya disebut Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk upaya deteksi dini, preventif dan respons penyakit.
Penyakit menular dan tidak menular masih menjadi perhatian serius dengan tingkat penularan yang cukup tinggi sehingga akan berkontribusi pada peningkatan morbiditas, motalitas dan menurunkan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, upaya melindungi masyarakat, serta upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mengendalikan faktor risiko penyebab terjadinya penyakit; upaya pengendalian merupakan upaya untuk merespon dan menangani kejadian penyakit, penggerakan masyarakat, dan pelaporan kejadian penyakit; upaya melindungi merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari risiko terpapar penyakit menular dan tidak menular; dan upaya meningkatkan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sehingga tidak mudah terpapar penyakit menular dan tidak menular
Gambaran situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Bangka Tengah saat ini mengalami pola yang hampir sama dengan wilayah lainnya di Indonesia, Kabupaten Bangka Tengah juga masih dihadapkan dengan beberapa kendala dan tantangan, diantaranya masih lemahnya koordinasi dan integrasi kegiatan antar lintas program dan lintas sektor, belum optimalnya jejaring kerja dan peran serta aktif dari stakeholder dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit serta kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam deteksi dini penyakit yang cenderung sudah datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi sakit yang parah.
Upaya analisis dan pemetaan permasalahan penyakit di wilayah Kabupaten Bangka Tengah diharapkan mampu menjadi rekomendasi dalam menyiapkan beberapa strategi dan inovasi yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 dengan harapan upaya ini dapat efektif dan tepat sasaran dalam mencegah, menanggulangi dan mengendalikan penyakit baik menular maupun tidak menular di Kabupaten Bangka Tengah.
| Kegiatan | Tanggal Mulai | Tanggal Selesai | |
|---|---|---|---|
| A. | Perencanaan/Persiapan |
01 Januari 2026
|
05 Januari 2026
|
| B. | Pelaksanaan Lapangan |
01 April 2026
|
31 Desember 2026
|
| C. | Pengolahan |
07 April 2026
|
31 Desember 2026
|
| D. | Analisis |
28 April 2026
|
31 Desember 2026
|
| E. | Penyajian |
02 Mei 2026
|
31 Desember 2026
|
|
No.
|
Nama Variabel
|
Definisi
|
Referensi Waktu
|
|---|---|---|---|
| 1 | Penyakit Menular | penyakit yang dapat menular ke manusia yang disebabkan oleh agen biologi, antara lain virus, bakteri, jamur, dan parasit. | 2026 |
| 2 | Penyakit Tidak Menular | penyakit yang tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, yang perkembangannya berjalan perlahan dalam jangka waktu yang panjang (kronis). | 2026 |
|
Nama Provinsi
|
Kabupaten/Kota
|
|---|
- Pengumpulan Data Sekunder
- Paper-assisted Personal Interviewing (PAPI)
- Computer-assisted Personal Interviewing (CAPI)
- Kunjungan Kembali
- Supervisi
- Individu
- Kabupaten Atau Kota