Beranda / Rekomendasi Terbit / Survei Persepsi Masyarakat Terkait ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026

Rancangan Kegiatan Statistik

Judul Survei Persepsi Masyarakat Terkait ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026
Cara Pengumpulan Data Survei
Instansi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
Tanggal Terbit 07 Mei 2026
Identitas Rekomendasi V-26.3100.056
Judul Kegiatan :
Survei Persepsi Masyarakat Terkait ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) di Provinsi DKI Jakarta
Tahun:
2026
Cara Pengumpulan Data:
Survei
I. Penyelenggara
1.1. Instansi Penyelenggara:
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
1.2. Alamat Lengkap Instansi Penyelenggara:
Jl. Kesehatan No.10, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir
Telepon:
(021)21201123
Faksmile:
(021)21201123
Email:
mutu.dinkesdki@jakarta.go.id
II. Penanggung Jawab
2.2. Penanggung Jawab Teknis (setingkat Eselon 3):
Nama:
dr. Sri Puji Wahyuni, MKM
Jabatan:
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
Alamat:
Jl. Kesehatan No.10, RT.1/RW.6, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
Telepon:
(021) 3845825
Faksmile:
Email:
dinkes@jakarta.go.id
III. Perencanaan dan Persiapan
3.1. Latar Belakang Kegiatan:

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi salah satu penyebab utama Angka Kematian Bayi (AKB). Dengan proyeksi lonjakan kasus hingga 2,75 juta pada tahun 2025 dan risiko komplikasi serius berupa Pneumonia, langkah intervensi menjadi sangat krusial. Berdasarkan hasil survei baseline yang dilakukan sebelumnya, ditemukan fakta bahwa masyarakat masih memiliki pemahaman yang rendah terkait risiko ISPA yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi Pneumonia yang fatal. Selain itu, teridentifikasi rendahnya kepatuhan mencuci tangan setelah menyentuh permukaan kotor di transportasi umum, keengganan menggunakan masker saat bergejala, serta kecenderungan menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan meskipun responden sudah mengalami sesak napas.

         Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta telah mengimplementasikan "Kampanye Promotif dan Preventif ISPA 2026" pada periode Februari hingga April 2026. Intervensi ini dilakukan melalui strategi komunikasi terpadu secara offline melalui tenaga promosi kesehatan di seluruh Puskesmas dan RSUD, serta secara online melalui infografis lintas sektoral dan strategi WA Blast ke komunitas warga. Rangkaian kampanye ini secara khusus dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai bahaya Pneumonia dan membangun urgensi dalam melakukan tindakan pencegahan mandiri.


      Sebagai tahap akhir dari evaluasi program, diperlukan pelaksanaan survei post-test guna mengevaluasi efektivitas intervensi yang telah dijalankan. Survei ini bertujuan untuk mengukur tingkat kenaikan pengetahuan, perubahan persepsi risiko, tingkat literasi kesehatan, serta perubahan perilaku masyarakat pasca-paparan kampanye. Hasil komparasi antara data baseline dan post-test ini akan menjadi indikator capaian kinerja program sekaligus landasan strategis dalam menyempurnakan kebijakan pengendalian penyakit pernapasan di Provinsi DKI Jakarta secara berkelanjutan.

3.2. Tujuan Kegiatan:

Mengevaluasi efektivitas Kampanye Promotif dan Preventif ISPA 2026 dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mengubah perilaku pencegahan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta.

3.3. Rencana Jadwal Kegiatan:
Kegiatan Tanggal Mulai Tanggal Selesai
A. Perencanaan/Persiapan
20 April 2026
26 April 2026
B. Pelaksanaan Lapangan
27 April 2026
10 Mei 2026
C. Pengolahan
11 Mei 2026
17 Mei 2026
D. Analisis
18 Mei 2026
24 Mei 2026
E. Penyajian
25 Mei 2026
27 Mei 2026
3.4. Variabel yang Dikumpulkan:
No.
Nama Variabel
Definisi
Referensi Waktu
1 Nama Panggilan lengkap seseorang sesuai dengan nama yang tercantum pada kartu keluarga (KK) atau kartu tanda penduduk (KTP). saat pendataan
2 Usia Lama waktu hidup sejak dilahirkan yang dihitung menurut sistem kalender masehi dengan pembulatan ke bawah atau umur ulang tahun yang terakhir saat pendataan
3 Nomor handphone Nomor telepon yang dapat dihubungi saat pendataan
4 Jenis Kelamin Penggolongan seseorang secara fisiologis menurut jenis dan kemampuan organ reproduksi yang ditandai dengan ciri-ciri fisik tertentu saat pendataan
5 Pendidikan terakhir Kondisi seseorang telah menyelesaikan pelajaran pada kelas/tingkat terakhir suatu jenjang pendidikan dengan mendapatkan tanda tamat/ijazah, termasuk yang belum mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi namun sudah mengikuti ujian dan lulus saat pendataan
6 Pekerjaan Pencaharian yang dijadikan sebagai pokok penghidupan saat pendataan
7 Domisili Ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional saat pendataan
8 Sumber informasi mengenai link survei persepsi ISPA Tempat atau wadah yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan undang-undang serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. saat pendataan
9 Pengetahuan tentang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu. Dalam hal ini pengetahuan terkait ISPA secara umum. saat pendataan
10 Sumber informasi tentang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Tempat atau wadah yang digunakan untuk memperoleh keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut secara umum saat pendataan
11 Pengetahuan tentang terjadinya ISPA saat musim hujan dan banjir Pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu dimana dalam hal ini mengenai potensi terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) saat musim hujan dan banjir saat pendataan
12 Pengetahuan tentang penanganan ISPA yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia Pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu dimana dalam hal ini mengenai penanganan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) agar tidak berkembang menjadi pneumonia saat pendataan
13 Pengetahuan tentang langkah pencegahan ISPA dengan melakukan cuci tangan pakai sabun Pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu mengenai langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan akut dengan cuci tangan menggunakan sabun saat pendataan
14 Pengetahuan tentang langkah pencegahan ISPA dengan menggunakan masker saat sakit Pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu mengenai langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan akut dengan menggunakan masker saat sakit saat pendataan
15 Pengetahuan tentang Langkah pencegahan ISPA dengan melakukan vaksinasi influenza Pengetahuan adalah pemahaman tentang sesuatu hal berdasarkan interpretasi atas sebuah konteks permasalahan tertentu mengenai Langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan akut dengan menggunakan vaksinasi influenza saat pendataan
16 Persepsi responden terkait langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) terutama saat musim hujan Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait dengan langka pencegahan infeksi saluran pernapasan akut saat musim hujan saat pendataan
17 Persepsi tentang pengaruh kebiasaan sehari-hari terhadap kesehatan pernafasan Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait kumpulan tindakan, aktivitas, atau respons yang dilakukan oleh individu sehari-sehari yang mempengaruhi kesehatan pernapasan saat pendataan
18 Persepsi tentang pentingnya perlindungan lansia dan balita dari ISPA Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait pentingnya perlindungan untuk seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas atau anak berusia 0-4 tahun saat pendataan
19 Persepsi tentang tindakan pertama yang dilakukan jika anak mengalami batuk pilek ringan Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait keadaan seseorang yang mengalami ganguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena gangguang/penyakit yang sering dialami seperti panas, batuk, pilek, diare dan sakit kepala, maupun karena penyakit akut, penyakit kronis. saat pendataan
20 Persepsi tentang gejala/tanda bahaya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait gejala/tanda bahaya ISPA meliputi batuk dahak dan ingus kental, napas cepat/sesak, tarikan dinding dada ke dalam saat tarik napas, bibir/kuku kebiruan. saat pendataan
21 Persepsi tentang waktu yang tepat untuk mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terkait waktu yang tepat untuk mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan dengan gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang sedang dialami saat pendataan
22 Frekuensi mencuci tangan pakai sabun ketika sebelum dan sesudah makan Rentang waktu untuk mencuci tangan menggunakan sabun ketika sebelum dan sesudah makan, seberapa sering melakukan hal tersebut. saat pendataan
23 Frekuensi mencuci tangan pakai sabun setelah menggunakan toilet Rentang waktu untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah menggunakan toilet/kamar mandi, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
24 Frekuensi mencuci tangan pakai sabun setelah menyentuh permukaan yang kotor Rentang waktu untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah menyentuh permukaan yang kotor seperti gagang pintu, pegangan kereta, dll, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
25 Frekuensi menggunakan masker saat batuk/pilek Rentang waktu untuk menggunakan masker saat sakit batuk/pilek, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
26 Frekuensi menghindari asap rokok di dalam rumah atau ruangan tertutup Rentang waktu untuk menghindari asap rokok di dalam rumah atau ruangan tertutup, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
27 Frekuensi membuka ventilasi/jendela rumah Rentang waktu untuk membuka ventilasi/jendela rumah untuk mendapat udara segar sehingga terjadi pertukaran udara dalam ruangan, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
28 Frekuensi pergi ke fasilitas kesehatan bila batuk/demam tidak membaik atau mengalami sesak napas Rentang waktu untuk pergi ke fasilitas kesehatan bila batuk/demam tidak membaik atau mengalami sesak napas, seberapa sering responden melakukan hal tersebut. saat pendataan
29 Pengalaman responden atau anggota keluarga yang pernah mengalami gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Pengalaman mengidap penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang berpotensi menular, terutama melalui droplet, kontak langsung, dan udara, sehingga memerlukan penerapan kewaspadaan standar dan kewaspadaan berbasis transmisi di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi. saat pendataan
30 Pengalaman responden dalam merespon kondisi saat mengalami gejala ISPA Pengalaman merespon adanya gejala penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang berpotensi menular, terutama melalui droplet, kontak langsung, dan udara, sehingga memerlukan penerapan kewaspadaan standar dan kewaspadaan berbasis transmisi di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi. saat pendataan
31 Waktu yang dibutuhkan responden untuk menunggu sebelum mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan Periode waktu yang diperlukan untuk menunggu sebelum mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan. saat pendataan
32 Persepsi responden terhadap alasan untuk tidak langsung ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala ISPA Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna terhadap alasan responden tidak langsung ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala ISPA saat pendataan
33 Pengalaman responden terhadap tempat fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi untuk berobat Pengalaman dalam mendatangi tempat fasilitas kesehatan untuk berobat saat sakit meliputi puskesmas, klinik, rumah sakit dan lainnya. saat pendataan
34 Pengalaman responden dalam menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dari tenaga kesehatan Pengalaman dalam menyelesaikan pengobatan di salah satu tempat fasilitas kesehatan sesuai dengan arahan tenaga kesehatan saat pendataan
35 Kesediaan untuk lebih konsisten mencuci tangan pakai sabun ketika sebelum dan sesudah makan Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan mencuci tangan menggunakan sebelum dan sesudah makan saat pendataan
36 Kesediaan untuk lebih konsisten mencuci tangan pakai sabun setelah menggunakan toilet Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan mencuci tangan menggunakan sabun setelah menggunakan toilet saat pendataan
37 Kesediaan untuk lebih konsisten mencuci tangan pakai sabun setelah menyentuh permukaan yang kotor Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan mencuci tangan menggunakan sabun setelah menyentuh permukaan yang kotor saat pendataan
38 Kesediaan untuk menggunakan masker saat sakit Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan menggunakan masker saat sakit saat pendataan
39 Kesediaan untuk menghindari asap rokok di dalam/luar ruangan Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan menghindari Asap rokok di dalam/luar ruangan saat pendataan
40 Kesediaan untuk membuka ventilasi atau jendela di rumah Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dengan membuka ventilasi atau jendela di rumah saat pendataan
41 Kesediaan untuk mengenali tanda bahaya ISPA dan segera ke faskes Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya menghindari faktor risiko penularan dimana segera menuju fasilitas kesehatan ketika batuk, demam tidak membaik serta sesak nafas saat pendataan
42 Kesediaan untuk segera ke faskes jika mengalami gejala ISPA berat Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya segera pergi ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala ISPA berat saat pendataan
43 Kesediaan untuk memilih pengobatan mandiri terlebih dahulu sebelum ke faskes Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya mencoba pengobatan mandiri terlebih dahulu jika pada akhirnya tidak kunjung membaik maka segera ke faskes saat pendataan
44 Kesediaan untuk memeriksakan anak ke faskes saat mengalami gejala ISPA Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya bahwa pentingnya segera memeriksakan anak ke faskes saat mengalami gejala ISPA saat pendataan
45 Kesediaan untuk mengikuti anjuran tenaga kesehatan Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya mengikuti anjuran tenaga kesehatan seoerti minum obat, kontrol ulang dan lain-lain saat pendataan
46 Kesediaan untuk mencari informasi dari sumber terpercaya jika mengalami gejala ISPA Kemauan dan kesiapan individu untuk melakukan tindakan pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara sadar dan konsisten, melalui upaya mencari informasi dari sumber terpercaya seperti tenaga kesehatan atau media resmi jika mengalami gejala ISPA saat pendataan
47 Pengalaman responden terhadap keterpaparan informasi/sosialisasi pencegahan ISPA selama satu bulan terakhir Pengalaman responden melihat atau mendengar informasi mengenai pencegahan ISPA dari pemerintah provinsi DKI Jakarta selama satu bulan terakhir saat pendataan
48 Sumber informasi mengenai informasi/sosialisasi pencegahan ISPA Tempat atau wadah yang digunakan pengguna layanan dalam mendapatkan informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan undang-undang serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Dalam hal ini informasi terkait pencegahan ISPA yang dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta saat pendataan
49 Persepsi responden dalam memahami waktu rujukan kesehatan Proses kognitif yang melibatkan pengindraan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus atau data lingkungan untuk memberikan makna atau pemahaman responden mengenai waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis ke fasilitas kesehatan setelah menerima edukasi kampanye infeksi saluran pernapasan akut. saat pendataan
50 Dampak edukasi terhadap keputusan berobat Pengaruh atau akibat yang ditimbulkan dari pemberian materi kampanye terhadap kecepatan pengambilan keputusan individu untuk segera berobat saat gejala muncul. saat pendataan
51 Informasi kampanye yang paling diingat oleh responden Kemampuan seseorang dalam mengingat kembali keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik mengenai kampanye infeksi saluran pernapasan akut saat pendataan
52 Persepsi kejelasan dan kebermanfaatan informasi kampanye ISPA Tingkat kemudahan untuk memahami pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik mengenai kampanye infeksi saluran pernapasan akut saat pendataan
53 Alasan responden belum melaksanakan perilaku pencegahan ISPA secara rutin Identifikasi faktor-faktor penghambat, baik internal maupun eksternal, yang menyebabkan responden belum dapat mengimplementasikan perilaku pencegahan ISPA secara rutin dan konsisten. saat pendataan
54 Saran masukan terhadap sosialisasi kesehatan dari Pemprov DKI Jakarta kedepannya Pendapat yang dikemukakan untuk dipertimbangkan terkait saran masukan agar sosialisasi kesehatan dari Pemprov DKI Jakarta kedepannya bisa lebih menarik dan mudah diikuti oleh warga saat pendataan
IV. Desain Kegiatan
4.1. Kegiatan Ini Dilakukan:
Hanya Sekali
4.3. Tipe Pengumpulan Data:
Cross Sectional
4.4. Cakupan Wilayah Pengumpulan Data:
Sebagian Wilayah Indonesia
4.5. Wilayah Kegiatan:
Nama Provinsi
Kabupaten/Kota
4.6. Metode Pengumpulan Data:
  • Mengisi Kuesioner Sendiri
4.7. Sarana Pengumpulan Data:
  • Computer Aided Web Interviewing (CAWI)
V. Desain Sampel
5.1. Jenis Rancangan Sampel:
Single Stage
5.2. Metode Pemilihan Sampel Tahap Terakhir:
Sampel Nonprobabilitas
5.3. Metode Yang Digunakan:
Purposive Sampling
5.7. Unit Sampel:
Masyarakat DKI Jakarta atau yang beraktivitas di DKI Jakarta
5.8. Unit Observasi:
Masyarakat DKI Jakarta atau yang beraktivitas di DKI Jakarta
5.9. Jumlah Responden:
500
VI. Pengumpulan Data
6.1. Apakah Melakukan Uji Coba (Pilot Study)?
Ya
6.6. Metode Pemeriksaan Kualitas Pengumpulan Data:
  • Supervisi
VII. Pengolahan Dan Analisis
7.1. Tahapan Pengolahan Data:
Penyuntingan (Editing)
: Ya
Penyandian (Coding)
: Ya
Data Entry
: Tidak
Penyahihan (Validasi)
: Ya
7.2. Metode Analisis:
Analisis Deskriptif
7.3. Unit Analisis:
  • Individu
7.4. Tingkat Penyajian Hasil Analisis:
  • Provinsi
VIII. Diseminasi Hasil
8.1. Produk Kegiatan yang Tersedia untuk Umum
Tercetak (Hardcopy)
: Tidak
Digital (Softcopy)
: Ya
Data Mikro
: Tidak