Beranda / Rekomendasi Terbit / Kompilasi Data Penyusunan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Di Indonesia Tahun 2026

Rancangan Kegiatan Statistik

Judul Kompilasi Data Penyusunan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Di Indonesia Tahun 2026
Cara Pengumpulan Data Kompromin
Instansi Badan Pangan Nasional
Tanggal Terbit 13 Maret 2026
Identitas Rekomendasi K-26.0000.035
Judul Kegiatan :
Kompilasi Data Penyusunan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) di Indonesia
Tahun:
2026
Cara Pengumpulan Data:
Kompromin
I. Penyelenggara
1.1. Instansi Penyelenggara:
Badan Pangan Nasional
1.2. Alamat Lengkap Instansi Penyelenggara:
Jl. Harsono RM No. 3, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Telepon:
(021) 7807377
Faksmile:
(021) 7807377
Email:
nfa_official@badanpangan.go.id
II. Penanggung Jawab
2.1. Unit Eselon Penanggung Jawab:
Eselon 1:
Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi
Eselon 2:
Direktorat Pengendalian Kerawanan Pangan
2.2. Penanggung Jawab Teknis (setingkat Eselon 3):
Nama:
Dr. TONO, S.P., M.Si.
Jabatan:
Analis Ketahanan Pangan Madya
Alamat:
Jl. Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550
Telepon:
08158121385
Faksmile:
Email:
fsva.nfa@gmail.com
III. Perencanaan dan Persiapan
3.1. Latar Belakang Kegiatan:

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 114 dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Pasal 75 mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi, yang dapat digunakan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi, stabilisasi pasokan dan harga pangan serta sebagai sistem peringatan dini terhadap masalah pangan dan kerawanan pangan dan gizi.

Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 menerangkan prioritas kedua pembangunan Nasional yaitu memantapkan sistem keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi syariah, ekonomi digital, ekonomi hijau dan ekonomi biru. Salah satu sasaran prioritas nasional tersebut adalah meningkatnya kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan pangan yang berkualitas secara berkelanjutan dengan pendekatan Nexus Pangan, Energi, dan Air (FEW Nexus) dimana salah satu indikatornya adalah Indeks Ketahanan Pangan (IKP).

Salah satu sistem informasi untuk mendukung kegiatan Prioritas Nasional dan kegiatan penanganan kerawanan pangan dan gizi yang dikembangkan oleh Badan Pangan Nasional adalah Indeks Ketahanan Pangan (IKP) dan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA). Indeks Ketahanan Pangan (IKP) adalah indeks komposit yang mengukur ketahanan dan kerentanan pangan wilayah dari tiga aspek yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. IKP dapat menunjukkan capaian ketahanan pangan dan gizi wilayah (kabupaten/kota/provinsi) dan peringkat (ranking) relatif antara satu wilayah dibandingkan dengan wilayah lain. Nilai IKP yang dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu akan menghasilkan FSVA. Sehingga FSVA dapat diartikan sebagai peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan. FSVA dapat digunakan sebagai dasar penentuan daerah prioritas intervensi penanganan kerentanan terhadap kerawanan pangan, mengingat terbatasnya anggaran dan sumberdaya yang ada.

Badan Pangan Nasional pada tahun 2025 melakukan pemutakhiran analisis IKP dan FSVA dari sebelumnya 9 indikator menjadi 12 indikator. Dua belas indikator yang digunakan dalam penyusunan IKP merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Pemilihan indikator yang digunakan dalam IKP didasarkan pada: (i) hasil review terhadap indeks ketahanan pangan global; (ii) tingkat sensitivitas dalam mengukur situasi ketahanan pangan dan gizi; (iii) keterwakilan 3 pilar ketahanan pangan; dan (iv) ketersediaan data secara rutin untuk periode tertentu (tahunan) serta mencakup seluruh kabupaten/kota dan provinsi.

3.2. Tujuan Kegiatan:

1. Memberikan informasi dan gambaran pelaksanaan kegiatan penyusunan peta ketahanan dan kerentanan pangan sebagai bahan masukan pengambil kebijakan dalam upaya mengentaskan kerawanan pangan dan gizi lintas sektor, antara lain Bappenas, Kementerian Pertanian, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa PDTT, Kementerian BUMN, BKKBN, BPS, BMKG, BNPB, BRIN, serta OPD pangan di provinsi dan kabupaten/kota.

2. Memberikan Informasi dimana daerah rentan pangan, mengapa terjadi rentan pangan, dan dasar rekomendasi program pengentasan kerawanan pangan,

3. Mengevaluasi capaian ketahanan pangan dan gizi wilayah/daerah,

4. Menghasilkan indikator indeks ketahanan pangan (IKP) Nasional,

5. Menghasilkan indikator indeks ketahanan pangan (IKP) Provinsi,

6. Menghasilkan indikator indeks ketahanan pangan (IKP) Kabupaten,

7. Menghasilkan indikator indeks ketahanan pangan (IKP) Kota,

8. Menghasilkan indikator persentase daerah rentan rawan pangan,

9. Menghasilkan indikator indeks ketersediaan pangan,

10. Menghasilkan indikator indeks keterjangkauan pangan,

11. Menghasilkan indikator indeks pemanfaatan pangan.

3.3. Rencana Jadwal Kegiatan:
Kegiatan Tanggal Mulai Tanggal Selesai
A. Perencanaan/Persiapan
04 Maret 2026
31 Maret 2026
B. Pelaksanaan Lapangan
01 April 2026
29 Mei 2026
C. Pengolahan
01 Juni 2026
30 Juni 2026
D. Analisis
01 Juli 2026
31 Juli 2026
E. Penyajian
03 Agustus 2026
31 Desember 2026
3.4. Variabel yang Dikumpulkan:
Nama Variabel
Definisi
Referensi Waktu
Jumlah penduduk menurut Kab/Kota Banyaknya orang yang berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 1 tahun atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 1 tahun tetapi bertujuan untuk menetap. setahun yang lalu
Produksi beras menurut Kab/Kota jumlah total beras yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Produksi jagung menurut Kab/Kota jumlah total jagung yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Produksi ubi kayu menurut Kab/Kota jumlah total ubi kayu yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Produksi ubi Jalar menurut Kab/Kota jumlah total ubi jalar yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Produksi sagu menurut Kab/Kota jumlah total sagu yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Produksi pisang menurut Kab/Kota jumlah total pisang yang dihasilkan dari pertanian dalam suatu wilayah atau negara selama periode waktu tertentu. setahun yang lalu
Konsumsi Energi Per Kapita Sehari menurut Kab/Kota Rata-rata konsumsi energi aktual penduduk per kapita di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu. setahun yang lalu
Konsumsi Protein Hewani Per Kapita Sehari Menurut Kab/Kota Rata-rata konsumsi protein aktual penduduk per kapita di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu. setahun yang lalu
Cadangan beras pemerintah daerah kabupaten (CBPD) menurut Kab/Kota jumlah Cadangan Pangan Beras Pemerintah Daerah (CBPD) yang dimiliki keamananan PSAT(Pangan Segar Asal Tumbuhan) dan siap saji yang memenuhi standar keamanan pangan setahun yang lalu
Target CBPD berdasarkan peraturan perundangan menurut Kab/Kota Target Cadangan Pangan Beras Pemerintah Daerah berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan Atas Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 15 Tahun 2023 tentang Tata Cara Penghitungan Jumlah Cadangan Beras Pemerintah Daerah setahun yang lalu
Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan menurut Kab/Kota Jumlah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan dibandingkan dengan jumlah penduduk total setahun yang lalu
Koefisien varian harga (beras medium, daging ayam ras, telur ayam, dan minyak goreng) menurut Kab/Kota Persentase perbandingan standar deviasi dari harga komoditas pangan (beras medium, daging ayam ras, telur ayam, dan minyak goreng) terhadap rata-rata harga komoditas tersebut setahun yang lalu
Prevalence of Undernourishment (PoU) menurut Kab/Kota Proporsi populasi penduduk yang mengalami ketidakcukupan konsumsi pangan yang diukur dari asupan energi di bawah kebutuhan minimum energi/Minimun Dietary Energy Requirement (MDER) untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif terhadap populasi penduduk secara keseluruhan setahun yang lalu
Rata-rata lama sekolah perempuan umur >15 tahun menurut Kab/Kota Rata-rata lama bersekolah (total tahun bersekolah sampai pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan kelas tertinggi yang pernah diduduki) oleh perempuan berumur 15 tahun ke atas setahun yang lalu
Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih menurut Kab/Kota Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih yaitu persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses ke air minum yang berasal dari air isi ulang, leding/PAM, sumur bor/pompa air, sumur terlindung serta mata air yang terlindung dengan memperhatikan jarak ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat minimal 10 (sepuluh) meter. setahun yang lalu
Prevalensi Balita stunting menurut Kab/Kota Anak di bawah lima tahun yang tinggi badannya <-2 SD dengan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dari referensi khusus untuk tinggi badan terhadap usia dan jenis kelamin setahun yang lalu
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) menurut Kab/Kota Susunan beragam pangan berdasakan proporsi keseimbangan energi dari sembilan kelompok pangan dengan mempertimbangkan segi daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya, dan agama setahun yang lalu
data jumlah sampel Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) yang memenuhi dan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan Penjumlahan antara Data Pangan yang bernilai negatif pada uji rapid tes dan Data Pangan yang memenuhi standar lolos uji laporatorium setahun yang lalu
Jumlah TPP yang mendaftar label pengawasan HSP pertahun, untuk setiap provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia, Data status Laik Higiene Sanitasi Pangan (Laik HSP) pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) berdasarkan Permenkes Nomor 17 Tahun 2024 yang sudah dilakukan inspeksi kesehatan lingkungan dengan nilai minimal 80 setahun yang lalu
Jumlah TPP yang memiliki label pengawasan HSP pertahun, untuk setiap provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia, dan Data status Laik Higiene Sanitasi Pangan (Laik HSP) pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) berdasarkan Permenkes Nomor 17 Tahun 2024 yang sudah dilakukan inspeksi kesehatan lingkungan dengan nilai minimal 80 setahun yang lalu
Persentase TPP yang memiliki label pengawasan HSP pertahun dengan jumlah TPP yang mendaftar, Perbandingan antara TPP memiliki label pengawasan HSP pertahun dengan jumlah TPP yang mendaftar setahun yang lalu
IV. Desain Kegiatan
4.1. Kegiatan Ini Dilakukan:
Berulang
4.2. Frekuensi Penyelenggaraan:
Tahunan
4.3. Tipe Pengumpulan Data:
Cross Sectional
4.4. Cakupan Wilayah Pengumpulan Data:
Seluruh Wilayah Indonesia
4.6. Metode Pengumpulan Data:
  • Pengumpulan Data Sekunder
4.7. Sarana Pengumpulan Data:
  • Mail
VI. Pengumpulan Data
6.1. Apakah Melakukan Uji Coba (Pilot Study)?
Tidak
6.6. Metode Pemeriksaan Kualitas Pengumpulan Data:
  • Lainnya : Melakukan konfirmasi kepada walidata/ direktorat teknis pengumpul data, membandingkan dengan data tahun sebelumnya
VII. Pengolahan Dan Analisis
7.1. Tahapan Pengolahan Data:
Penyuntingan (Editing)
: Tidak
Penyandian (Coding)
: Tidak
Data Entry
: Ya
Penyahihan (Validasi)
: Ya
7.2. Metode Analisis:
Analisis Deskriptif
7.3. Unit Analisis:
  • Lainnya : Kabupaten/Kota
7.4. Tingkat Penyajian Hasil Analisis:
  • Nasional
  • Provinsi
  • Kabupaten Atau Kota
VIII. Diseminasi Hasil
8.1. Produk Kegiatan yang Tersedia untuk Umum
Tercetak (Hardcopy)
: Ya
Digital (Softcopy)
: Ya
Data Mikro
: Tidak