Rancangan Kegiatan Statistik
| Judul | Kompilasi Data Statistik Pariwisata Di Sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas Dan Tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif Tahun 2026 |
| Cara Pengumpulan Data | Kompromin |
| Instansi | Kementerian Pariwisata |
| Tanggal Terbit | 30 Juni 2026 |
| Identitas Rekomendasi | K-26.0000.068 |
Dalam RPJMN 2025-2029 Prioritas Nasional 3 (Melanjutkan Pengembangan Infrastruktur dan Meningkatkan Lapangan Kerja yang Berkualitas, Mendorong Kewirausahaan, Mengembangkan Industri Kreatif serta Mengembangkan Agromaritim Industri di Sentra Produksi melalui Peran Aktif Koperasi) telah dirumuskan salah satu sasaran pembangunan yaitu meningkatnya nilai tambah pariwisata. Dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan tersebut, telah disusun arah kebijakan yaitu pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan berfokus pada 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), guna menciptakan pusat-pusat pariwisata baru di berbagai daerah dengan meniru keberhasilan Bali. Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), meliputi Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta), Bangka Belitung (Kepulauan Bangka Belitung), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Lombok-Gili Tramena (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Manado-Likupang (Sulawesi Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Morotai (Maluku Utara) dan Raja Ampat (Papua Barat Daya) ditambah Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR) Kepulauan Riau, Bali dan Greater Jakarta dipilih sebagai kawasan unggulan yang dilengkapi investasi memadai dalam pembangunan infrastruktur dasar dan suprastruktur pariwisata. Pemerintah bahkan menetapkan beberapa diantaranya sebagai KEK pariwisata yang memberikan insentif fiskal dan kemudahan investasi, serta membentuk badan pelaksana otorita khusus untuk mengelola pengembangan setiap destinasi.
Pengembangan pariwisata yang efektif dan berkelanjutan sangat bergantung pada ketersediaan data statistik yang akurat, komprehensif, dan terkini. Data ini esensial sebagai dasar pengambilan kebijakan, perencanaan strategis, evaluasi program, serta identifikasi potensi dan tantangan di lapangan. Tanpa data yang memadai, upaya pengembangan pariwisata dapat menjadi kurang terarah, tidak efisien, dan sulit diukur dampaknya.
Saat ini, masih terdapat kesenjangan data terkait statistik pariwisata, khususnya untuk destinasi-destinasi yang menjadi prioritas pengembangan. Data yang tersedia seringkali belum mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan, kurang terintegrasi, atau tidak diperbarui secara berkala. Kondisi ini menghambat kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan intervensi yang tepat sasaran, memantau kemajuan, dan mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Oleh karena itu, kegiatan Penyediaan Data Statistik Pariwisata di Sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas dan Tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif Tahun 2026 menjadi sangat krusial. Kegiatan ini akan menghasilkan data yang komprehensif mengenai perkembangan wisatawan mancanegara, wisatawan nusantara, profil usaha penyediaan akomodasi, makan dan minum serta obyek dan daya tarik wisata. Data ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu para pemangku kepentingan dalam perumusan kebijakan pariwisata yang berbasis bukti (evidence-based policy). Dengan data yang memadai, diharapkan pengembangan pariwisata di destinasi-destinasi kunci ini dapat berjalan lebih optimal, memberikan dampak positif yang maksimal bagi perekonomian nasional dan masyarakat lokal.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melaksanakan kegiatan penyediaan data statistik pariwisata di sepuluh destinasi pariwisata prioritas dan tiga destinasi pariwisata regeneratif tahun 2026, yang memuat data terkait jumlah dan profil wisatawan mancanegara, wisatawan nusantara, usaha akomodasi, usaha makan dan minum, serta usaha obyek dan daya tarik wisata komersial di 10 lokus DPP dan 3 lokus DPR di Indonesia.
Indikator yang akan dihasilkan, meliputi sbb :
Jumlah Kunjungan, Lama Tinggal, Pengeluaran dan Devisa Wisatawan Mancanegara di 10 DPP dan 3 DPR
Jumlah Kunjungan, Lama Tinggal, Pengeluaran dan Pendapatan Wisatawan Nusantara di 10 DPP dan 3 DPR
Profil Usaha Penyediaan Akomodasi (Rata-Rata TPK, Jumlah Usaha, Jumlah Kamar, Jumlah Tenaga Kerja, Jumlah Pendapatan, Jumlah Pengeluaran) di 10 DPP dan 3 DPR
Profil Usaha Penyediaan Makan dan Minum (Jumlah Usaha, Jumlah Tenaga Kerja, Jumlah Pendapatan, Jumlah Pengeluaran) di 10 DPP dan 3 DPR
Profil Usaha ODTW Komersial (Jumlah Usaha, Jumlah Pengunjung, Jumlah Tenaga Kerja, Jumlah Pendapatan, Jumlah Pengeluaran) di 10 DPP dan 3 DPR
Jumlah Tenaga Kerja Pariwisata di 10 DPP dan 3 DPR
Jumlah PDRB Akmamin di 10 DPP dan 3 DPR
| Kegiatan | Tanggal Mulai | Tanggal Selesai | |
|---|---|---|---|
| A. | Perencanaan/Persiapan |
04 Maret 2026
|
17 Juli 2026
|
| B. | Pelaksanaan Lapangan |
20 Juli 2026
|
26 Februari 2027
|
| C. | Pengolahan |
27 Juli 2026
|
31 Maret 2027
|
| D. | Analisis |
01 April 2027
|
30 April 2027
|
| E. | Penyajian |
01 Mei 2027
|
31 Mei 2027
|
|
No.
|
Nama Variabel
|
Definisi
|
Referensi Waktu
|
|---|---|---|---|
| 1 | Destinasi Pariwisata Prioritas | Destinasi yang menjadi Prioritas pembangunan Pariwisata meliputi Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta), Bangka Belitung (Kepulauan Bangka Belitung), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Lombok-Gili Tramena (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Manado-Likupang (Sulawesi Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Morotai (Maluku Utara) dan Raja Ampat (Papua Barat Daya) | Tahunan |
| 2 | Destinasi Pariwisata Regeneratif | Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR) meliputi Kepulauan Riau, Bali dan Greater Jakarta yang dipilih sebagai kawasan unggulan yang dilengkapi investasi memadai dalam pembangunan infrastruktur dasar dan suprastruktur pariwisata | Tahunan |
| 3 | Wisatawan Mancanegara | Setiap orang yang melakukan perjalanan ke suatu negara di luar negara tempat tinggalnya, kurang dari satu tahun, didorong oleh suatu tujuan utama (bisnis, berlibur, atau tujuan pribadi lainnya), selain untuk bekerja dengan mendapat upah dari penduduk negara yang dikunjungi. | Triwulan |
| 4 | Wisatawan Nusantara | Penduduk yang melakukan perjalanan di wilayah teritori suatu negara, dalam hal ini Indonesia, dengan lama perjalanan kurang dari 12 bulan dan bukan bertujuan untuk memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi serta bukan merupakan perjalanan dalam rangka bekerja atau sekolah secara rutin. | Bulanan |
| 5 | Jenis Kelamin | Perbedaan antara perempuan dengan laki - laki secara fisiologis yang ditandai dengan ciri - ciri fisik tertentu. Jenis kelamin terbagi atas perempuan dan laki - laki | Tahunan |
| 6 | Kelompok Umur | Umur wisatawan nusantara yang dikelompokan menjadi 4 kategori, yaitu kurang dari 25; 25 - 34; 35 - 44; 45 - 54; lebih dari 55 | Tahunan |
| 7 | Pengeluaran Wisatawan Nusantara | Total uang yang dikeluarkan setiap wisatawan nusantara untuk satu kali perjalanan | Tahunan |
| 8 | Jenis Kegiatan Wisata | Jenis kegiatan wisata yang dilakukan oleh wisatawan nusantara | Tahunan |
| 9 | Maksud Utama Perjalanan | Motivasi utama wisatawan nusantara melakukan perjalanan | Tahunan |
| 10 | Tingkat Penghunian Kamar | Persentase antara banyaknya malam kamar yang terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia. | Tahunan |
| 11 | Usaha akomodasi | Usaha yang menyediakan akomodasi jangka pendek khususnya untuk harian atau mingguan untuk pengunjung dan pelancong lainnya. | Tahunan |
| 12 | Tenaga kerja usaha akomodasi | Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melakukan kegiatan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam berturut-turut dalam seminggu terakhir. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi di bidang usaha akomodasi. | Tahunan |
| 13 | Nilai tambah usaha akomodasi | Besarnya nilai output dikurangi besarnya biaya intermediate input (biaya antara) pada usaha akomodasi | Tahunan |
| 14 | Usaha penyediaan makan dan minum | usaha/perusahaan yang melakukan kegiatan pelayanan makan minum yang menyediakan makanan atau minuman untuk dikonsumsi segera, baik restoran tradisional, restoran “self service” atau restoran “take away”, baik di tempat tetap maupun sementara dengan atau tanpa tempat duduk. Yang dimaksud penyediaan makanan dan minuman adalah penyediaan makanan dan minuman untuk dikonsumsi segera berdasarkan pemesanan. | Tahunan |
| 15 | Tenaga kerja usaha penyediaan makan dan minum | Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melakukan kegiatan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam berturut-turut dalam seminggu terakhir. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi di bidang usaha penyediaan makan dan minum. | Tahunan |
| 16 | Nilai tambah usaha penyediaan makan dan minum | Besarnya nilai output dikurangi besarnya biaya intermediate input (biaya antara) pada usaha penyediaan makan dan minum | Tahunan |
| 17 | Usaha Objek dan Daya Tarik Wisata Komersial | Segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan, serta menerapkan tiket masuk dengan harga/tarif tertentu bagi para pengunjungnya. | Tahunan |
| 18 | Pengunjung usaha Objek dan Daya Tarik Wisata Komersial | Jumlah orang yang mengunjungi suatu Objek dan Daya Tarik Wisata komersial | Tahunan |
| 19 | Tenaga kerja usaha Objek dan Daya Tarik Wisata | Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melakukan kegiatan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam berturut-turut dalam seminggu terakhir. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi di bidang usaha Objek dan Daya Tarik Wisata. | Tahunan |
| 20 | Nilai tambah usaha Objek dan Daya Tarik Wisata Komersial | Besarnya nilai output dikurangi besarnya biaya intermediate input (biaya antara) pada usaha Objek dan Daya Tarik Wisata Komersial. | Tahunan |
|
Nama Provinsi
|
Kabupaten/Kota
|
|---|
- Pengumpulan Data Sekunder
- Lainnya : Rapat rutin melalui workshop dengan BPS selaku penyedia data
- Individu
- Usaha Dan Perusahaan
- Lainnya : 13 lokus (10 DPP dan 3 DPR)